Anak-anak cerdas selalu mengutamakan akalnya dalam bertindak. Ketika dihadapkan pada suatu hal diluar batas normal, mereka secara spontan tidak langsung menilai itu sebagai perbuatan baik atau buruk. Memang pada tahap ini merupakan tahap imitasi yang mana mereka cenderung meniru segala sesuatu yang ditangkap oleh indera matanya. Namun, dikarenakan pemikiran yang belum matang, mereka cenderung meniru segala hal yang menurut mereka menarik. Oleh karena itu, peran orang tua sebagai penanam sugesti-sugesti baik sangat ditekankan.

Sebuah kasus yang pernah saya alami ketika keponakan saya yang masih berusia 3 tahun sangat takut ketika bertemu orang asing. Ia selalu menghindar dan seringkali menangis ketika didekati. Namun, orangtuanya tidak menyadari bahwa hal ini jika dibiarkan akan mengganggu psiokologi mereka ketika tumbuh dewasa. Sebenarnya rasa takut itu bukanlah terjadi secara natural dalam dirinya, tapi cenderung diperkenalkan. Contohnya, tentu sering kita melihat orangtua yang ingin anaknya tenang di rumah di saat maghrib dengan menakut-nakuti mereka dengan cerita tentang setan, tuyul, dsb agar mereka tidak keluar rumah. Memang hal ini sangat ampuh, tapi selamanya mereka akan terus terbayangi dengan setan atau tuyul yang ada dalam cerita itu. Itulah sisi negatif penanaman sugesti buruk pada anak.

Lain halnya dengan keluarga pejuang di Palestina. Mereka selalu menanamkan sugesti 'pemberani' kepada anak-anak mereka, sehingga meskipun anak-anak mereka berusia 8 atau 9 tahun mereka telah berani memegang senjata api dan ikut terjun bersama orangtua mereka ke medan perang. Sugesti keberanian yang ditanamkan orangtuanya telah mendarah daging dalam diri mereka yang membuat mereka tidak gentar terhadap apapun.

Itulah sedikit contoh dari bahaya sugesti buruk dan indahnya sugesti baik pada anak-anak muda. Usia muda merupakan area terbaik orang tua untuk 'menanam' sugesti-sugesti baik yang membangun anak-anak mereka. Lebih diutamakan lagi adalah penanaman nilai-nilai agama yang kuat. Dengan begitu, smart children akan cenderung memilah-milah perbuatan mana yang baik untuk ditiru dan mana yang harus dibuang jauh-jauh.


Karena ini akan mereka lihat hasilnya ketika anak-anak mereka menginjak usia dewasa.

“Pisau akan sangat tajam bila sering diasah. Namun akan tumpul jika dibiarkan berkarat atau bahkan dipaksakan untuk memotong tulang.”

SMART CHILDREN


Anak-anak cerdas selalu mengutamakan akalnya dalam bertindak. Ketika dihadapkan pada suatu hal diluar batas normal, mereka secara spontan tidak langsung menilai itu sebagai perbuatan baik atau buruk. Memang pada tahap ini merupakan tahap imitasi yang mana mereka cenderung meniru segala sesuatu yang ditangkap oleh indera matanya. Namun, dikarenakan pemikiran yang belum matang, mereka cenderung meniru segala hal yang menurut mereka menarik. Oleh karena itu, peran orang tua sebagai penanam sugesti-sugesti baik sangat ditekankan.

Sebuah kasus yang pernah saya alami ketika keponakan saya yang masih berusia 3 tahun sangat takut ketika bertemu orang asing. Ia selalu menghindar dan seringkali menangis ketika didekati. Namun, orangtuanya tidak menyadari bahwa hal ini jika dibiarkan akan mengganggu psiokologi mereka ketika tumbuh dewasa. Sebenarnya rasa takut itu bukanlah terjadi secara natural dalam dirinya, tapi cenderung diperkenalkan. Contohnya, tentu sering kita melihat orangtua yang ingin anaknya tenang di rumah di saat maghrib dengan menakut-nakuti mereka dengan cerita tentang setan, tuyul, dsb agar mereka tidak keluar rumah. Memang hal ini sangat ampuh, tapi selamanya mereka akan terus terbayangi dengan setan atau tuyul yang ada dalam cerita itu. Itulah sisi negatif penanaman sugesti buruk pada anak.

Lain halnya dengan keluarga pejuang di Palestina. Mereka selalu menanamkan sugesti 'pemberani' kepada anak-anak mereka, sehingga meskipun anak-anak mereka berusia 8 atau 9 tahun mereka telah berani memegang senjata api dan ikut terjun bersama orangtua mereka ke medan perang. Sugesti keberanian yang ditanamkan orangtuanya telah mendarah daging dalam diri mereka yang membuat mereka tidak gentar terhadap apapun.

Itulah sedikit contoh dari bahaya sugesti buruk dan indahnya sugesti baik pada anak-anak muda. Usia muda merupakan area terbaik orang tua untuk 'menanam' sugesti-sugesti baik yang membangun anak-anak mereka. Lebih diutamakan lagi adalah penanaman nilai-nilai agama yang kuat. Dengan begitu, smart children akan cenderung memilah-milah perbuatan mana yang baik untuk ditiru dan mana yang harus dibuang jauh-jauh.


Karena ini akan mereka lihat hasilnya ketika anak-anak mereka menginjak usia dewasa.

“Pisau akan sangat tajam bila sering diasah. Namun akan tumpul jika dibiarkan berkarat atau bahkan dipaksakan untuk memotong tulang.”

No comments:

Post a Comment