Sebuah kisah menarik dari Rabiah Adawiyah. Seorang sufi besar yang memperkenalkan aliran 'Mahabbah' dalam ilmu Tasawwuf. Saat ia masih berstatus hamba sahaya, ia telah berjanji pada dirinya dan Allah swt, 'Yaa Allah, andaikan hamba telah terbebas dari perbudakan ini, hamba berjanji akan mempersembahkan hidup hamba ini kepadaMu.' Doanya dikabulkan oleh Allah dan ia pun terbebas dari perbudakan.
Sejak saat itu, setiap detik dalam hidupnya, ia selalu menyebut nama Allah. Tiada hari tanpa berdzikir. Sholat sunnah siang dan malampun ia lakukan. Hal ini menarik simpati dari beberapa sufi besar yang ingin meminangnya, salah satunya adalah Hasan Al Basri. Tiga orang datang menemuinya termasuk Hasan Al Basri dengan maksud melamarnya.
Maka Rabi’ah berkata, “Jika engkau bisa menjawab beberapa pertanyaan dariku, maka aku bersedia menjadi istrimu! Imam Hasan Al-Bashri pun segera menjawab, “Tanyalah, jika Allah memberiku petunjuk untuk menjawab, maka aku akan menjawab pertanyaanmu.”
Rabi’ah lalu melontarkan pertanyaan pertama:
“Bagaimana menurutmu, seandainya aku meninggal, apakah aku akan meninggalkan dunia ini sebagai orang Islam atau sebagai orang kafir?”
Imam Hasan Al-Bashri menjawab, “Masalah kematian berikut tanda-tandanya adalah masalah gaib bagi makhluk.”
Rabi’ah lalu melontarkan pertanyaan kedua: “Bagaimana menurutmu, seandainya aku sudah dimasukkan ke liang kubur, lalu Malaikat Munkar dan Nakir bertanya kepadaku, apakah aku mampu menjawab pertanyaan mereka atau tidak?”
Imam Hasan menjawab, “Mengetahui mampu-tidaknya seseorang untuk menjawab pertanyaan kedua malaikat itu adalah juga sama seperti masalah gaib yang ditanyakan sebelumnya.”
Kemudian, Rabi’ah Adawiyah menyampaikan pertanyaan ketiga: “Jika manusia dikumpulkan di tempat perhentiannya pada Hari Kiamat, sementara buku-buku catatan berterbangan (di Hari Kiamat, buku-buku catatan amal perbuatan yang ditulis Malaikat yang selalu dijaga dari tempat penyimpanannya di bawah Arsy yang kemudian atas perintah Allah SWT buku-buku itu berterbangan, lalu menempel di leher pemiliknya. Setelah itu, Malaikat mengambilnya untuk diserahkan kepada pemilik buku tersebut), lalu sebagian manusia ada yang diberikan buku amalnya dari sebelah kanan atau dari arah depan yang menandakan bahwa orang itu adalah orang Mukmin yang taat. Sedangkan, sebagian lagi ada yang diberikan dari sebelah kiri atau dari arah belakang yang menandakan bahwa dia adalah orang kafir. Menurutmu, apakah aku akan diberikan buku catatan amal dari sebelah kananku atau dari sebelah kiriku?”
Imam Hasan menjawab, “Mengetahui pemberian buku amal perbuatan juga masalah gaib.”
Rabi’ah kemudian mengajukan pertanyaan keempat, “Jika sekelompok manusia di Hari Kiamat dipanggil untuk masuk ke dalam surga dan sekelompok lain masuk ke dalam neraka, apakah aku akan termasuk penghuni surga ataukah penghuni neraka?”
Imam Hasan juga menjawab, “Mengetahui apakah engkau termasuk penghuni surga atau penghuni neraka adalah juga sebuah masalah gaib.”
Setelah mendengar jawaban Hasan Al-Bashri, Rabi’ah pun berkata,
“Apakah seseorang yang gelisah terhadap keempat pertanyaan seperti itu membutuhkan suami atau mau menghabiskan waktunya hanya untuk memilih suami? Wanita diciptakan dengan 1 akal dan 9 nafsu sedangkan pria diciptakan dengan 9 akal dan 1 nafsu, bagaimana mungkin engkau dengan 1 nafsu tidak mampu menahan itu??” Hasan dan 2 orang sufi itu pulang dengan menangis dan menahan malu.
Smart Girls, kisah dari Rabiah adawiyah di atas memberikan gambaran akan mahalnya harga diri wanita yang memegang teguh agama. Wanita yang baik tidak tergoda dengan nafsunya sekalipun ia diciptakan dengan 9 nafsu. Dengan kisah di atas, saya harap anda semua mampu mengambil pelajaran yang berharga.

KISAH RABIAH ADAWIYAH


Sebuah kisah menarik dari Rabiah Adawiyah. Seorang sufi besar yang memperkenalkan aliran 'Mahabbah' dalam ilmu Tasawwuf. Saat ia masih berstatus hamba sahaya, ia telah berjanji pada dirinya dan Allah swt, 'Yaa Allah, andaikan hamba telah terbebas dari perbudakan ini, hamba berjanji akan mempersembahkan hidup hamba ini kepadaMu.' Doanya dikabulkan oleh Allah dan ia pun terbebas dari perbudakan.
Sejak saat itu, setiap detik dalam hidupnya, ia selalu menyebut nama Allah. Tiada hari tanpa berdzikir. Sholat sunnah siang dan malampun ia lakukan. Hal ini menarik simpati dari beberapa sufi besar yang ingin meminangnya, salah satunya adalah Hasan Al Basri. Tiga orang datang menemuinya termasuk Hasan Al Basri dengan maksud melamarnya.
Maka Rabi’ah berkata, “Jika engkau bisa menjawab beberapa pertanyaan dariku, maka aku bersedia menjadi istrimu! Imam Hasan Al-Bashri pun segera menjawab, “Tanyalah, jika Allah memberiku petunjuk untuk menjawab, maka aku akan menjawab pertanyaanmu.”
Rabi’ah lalu melontarkan pertanyaan pertama:
“Bagaimana menurutmu, seandainya aku meninggal, apakah aku akan meninggalkan dunia ini sebagai orang Islam atau sebagai orang kafir?”
Imam Hasan Al-Bashri menjawab, “Masalah kematian berikut tanda-tandanya adalah masalah gaib bagi makhluk.”
Rabi’ah lalu melontarkan pertanyaan kedua: “Bagaimana menurutmu, seandainya aku sudah dimasukkan ke liang kubur, lalu Malaikat Munkar dan Nakir bertanya kepadaku, apakah aku mampu menjawab pertanyaan mereka atau tidak?”
Imam Hasan menjawab, “Mengetahui mampu-tidaknya seseorang untuk menjawab pertanyaan kedua malaikat itu adalah juga sama seperti masalah gaib yang ditanyakan sebelumnya.”
Kemudian, Rabi’ah Adawiyah menyampaikan pertanyaan ketiga: “Jika manusia dikumpulkan di tempat perhentiannya pada Hari Kiamat, sementara buku-buku catatan berterbangan (di Hari Kiamat, buku-buku catatan amal perbuatan yang ditulis Malaikat yang selalu dijaga dari tempat penyimpanannya di bawah Arsy yang kemudian atas perintah Allah SWT buku-buku itu berterbangan, lalu menempel di leher pemiliknya. Setelah itu, Malaikat mengambilnya untuk diserahkan kepada pemilik buku tersebut), lalu sebagian manusia ada yang diberikan buku amalnya dari sebelah kanan atau dari arah depan yang menandakan bahwa orang itu adalah orang Mukmin yang taat. Sedangkan, sebagian lagi ada yang diberikan dari sebelah kiri atau dari arah belakang yang menandakan bahwa dia adalah orang kafir. Menurutmu, apakah aku akan diberikan buku catatan amal dari sebelah kananku atau dari sebelah kiriku?”
Imam Hasan menjawab, “Mengetahui pemberian buku amal perbuatan juga masalah gaib.”
Rabi’ah kemudian mengajukan pertanyaan keempat, “Jika sekelompok manusia di Hari Kiamat dipanggil untuk masuk ke dalam surga dan sekelompok lain masuk ke dalam neraka, apakah aku akan termasuk penghuni surga ataukah penghuni neraka?”
Imam Hasan juga menjawab, “Mengetahui apakah engkau termasuk penghuni surga atau penghuni neraka adalah juga sebuah masalah gaib.”
Setelah mendengar jawaban Hasan Al-Bashri, Rabi’ah pun berkata,
“Apakah seseorang yang gelisah terhadap keempat pertanyaan seperti itu membutuhkan suami atau mau menghabiskan waktunya hanya untuk memilih suami? Wanita diciptakan dengan 1 akal dan 9 nafsu sedangkan pria diciptakan dengan 9 akal dan 1 nafsu, bagaimana mungkin engkau dengan 1 nafsu tidak mampu menahan itu??” Hasan dan 2 orang sufi itu pulang dengan menangis dan menahan malu.
Smart Girls, kisah dari Rabiah adawiyah di atas memberikan gambaran akan mahalnya harga diri wanita yang memegang teguh agama. Wanita yang baik tidak tergoda dengan nafsunya sekalipun ia diciptakan dengan 9 nafsu. Dengan kisah di atas, saya harap anda semua mampu mengambil pelajaran yang berharga.

No comments:

Post a Comment