Usianya
kini telah remaja. Dan kecerdasan Iyas bin Muawiyah makin matang.
Telah diriwayatkan bahwa tatkala beliau masih muda, ketika berada di
Damaskus, beliau pernah bersengketa dengan seorang tua penduduk kota
tersebut tentang suatu hak kepemilikan.
Setelah
putus asa menyelesaikannya dengan adu argumen, maka masalah tersebut
dibawa ke pengadilan.
Ketika
keduanya telah berada di depan hakim (qadhi), Iyas mengemukakan
argumennya dengan suara lantang kepada rivalnya. Lalu ditegur oleh
sang qadhi,
Qadhi:
“Rendahkanlah suaramu wahai anak !”, karena lawanmu adalah
seorang yang sudah besar, baik secara usia maupun kedudukannya“.
Iyas:
“Akan tetapi kebenaran lebih besar dari dia“.
Qadhi:
“Diam …!!!“. (dengan nada marah)
Iyas:
“Siapakah yang akan mengemukakan alasanku jika aku diam..?“.
Qadhi:
“Aku tidak mendapatkan semua keteranganmu sejak masuk majelis ini
selain kebathilan…“.
Iyas:
“Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, jujurlah…!,
apakah kata-kataku ini haq ataukah bathil..?“
Qadhi:
“Benar…!, demi Rabb-ul Ka’bah…, Engkau benar…!!!“.
Karena
kecerdasan beliau dan semangatnya yang membara dalam menuntut ilmu,
sampailah beliau mencapai kedudukan yang terhormat dalam ilmu.
Sehingga orang-orang tua pun hormat dan belajar kepadanya meskipun
usia beliau masih sangat belia.
Pada
suatu hari, ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan mengunjungi
Bashrah sebelum menjadi khalifah, dia melihat Iyas, -yang masih
remaja dan belum lagi tumbuh kumisnya- , berada paling depan sebagai
pemimpin, sedangkan di belakangnya ada empat orang qurra’
(penghafal Al-Qur’an) yang sudah berjenggot panjang dengan pakaian
resmi berwarna hijau. Maka Abdul Malik berkata;
Abdul
Malik: “Celaka benar orang-orang berjenggot ini, apakah disini
tidak ada lagi orang tua yang bisa memimpin, sampai anak sekecil ini
dijadikan pemimpin mereka? “.
(Lalu
dia menoleh kepada Iyas dan bertanya)
Abdul
Malik: “Berapa usiamu wahai anak muda?“
Iyas:
“Usiaku sama dengan usia Usamah bin Zahid saat diangkat oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panglima pasukan
yang di dalamnya ada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhum, semoga
Allah Ta’ala memanjangkan umur anda…”.
Abdul
Malik: “Kemari, kemarilah wahai anak muda, semoga Allah Ta’ala
memberkatimu“.
(Wallahu’alam)
Iyaz
ibn Muawiyah, anak muda yang sangat cerdas dan tegas dalam kebenaran.
Dia adalah mutiara teladan bagi para remaja jika ingin meraih tempat
tinggi dalam ilmu pengetahuan, hendaklah mengutamakan akalnya dan
selalu menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran. Iyaz ibn Muawiyah,
hakim luhur yang berbudi agung serta pembela kebenaran.
No comments:
Post a Comment